PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK (TRANSISIONAL) IKATAN ARSITEK INDONESIA Edisi 2007, cetakan pertama 2007 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA IKATAN ARSITEK INDONESIA |Indonesian Institute of Architects| ................................................ Member Institute of ARCASIA (Architects Regional Council Asia) National Section of UIA (Union Internationale des Architectes) Founder – member of AAPH (ASEAN Association of Planning and Housing) Situs http://www.iai.or.id, e-mail: iai@iai.or.id Buku Pedoman Pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Arsitek Edisi 2007, cetakan pertama 2007 Disusun oleh: Dewan Pendidikan Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia Badan Pendidikan Arsitek Ikatan Arsitek Indonesia Diterbitkan oleh: Badan Sistem Informasi Arsitektur Ikatan Arsitek Indonesia Bekerja sama: Ikatan Arsitek Indonesia DKI Jakarta Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang 2 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA PEMBUKA Pedoman ini merupakan hasil serangkaian pembicaraan dan pertemuan yang telah diselenggarakan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dengan berbagai pihak terkait berkenaan dengan kinerja, praktik, dan pendidikan seorang arsitek. Penyusunan pedoman ini dimaksudkan sebagai rambu-rambu dan standardisasi dalam penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Arsitek (PPA) untuk masa transisional, supaya baik perguruan tinggi maupun pihak-pihak lain yang menyelenggarakan program ini dapat menghasilkan lulusan dengan kualitas pengetahuan, keahlian, keterampilan, serta kinerja yang sama tingginya dan memenuhi kriteria yang direkomendasikan oleh Union Internationale des Architectes (UIA). Adapun tujuan penyusunan pedoman ini adalah agar keberadaan dan kemampuan para arsitek anggota IAI dan profesi arsitek di Indonesia dapat diakui masyarakat - khususnya yang terkait pada bidang pelayanan jasa perancangaan dan perencanaan dalam sektor industri konstruksi - baik di dalam maupun luar negeri, dan terutama sekali dalam rangka mengantisipasi praktik lintas-batas negara baik dalam lingkup ASEAN, AFTA, APEC, maupun WTO. Januari, 2007 IKATAN ARSITEK INDONESIA PENGURUS NASIONAL Budi A.Sukada, IAI Ketua Umum 2005-2008 3 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA DAFTAR ISI PEMBUKA ................................................................................................................................................3 DAFTAR ISI ..............................................................................................................................................4 PENGANTAR ...........................................................................................................................................6 BAB 1 LATAR BELAKANG .....................................................................................................................9 1. Kebijaksanaan Pemerintah Tentang Pendidikan Para Profesional .........................................9 2. Rekomendasi UIA Tentang Pendidikan & Kinerja Profesional Seorang Arsitek .................. 10 3. Jenjang Pendidikan Tinggi Bidang Arsitektur di Indonesia ................................................... 11 BAB 2 PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK IAI (PPArs-IAI) .................................................................. 14 Jenjang Menuju Arsitek Profesional di Indonesia ................................................................. 14 BAB 3 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ..................................................................................... 17 1. Pihak Penyelenggara ............................................................................................................ 17 2. Silabus & Kurikulum .............................................................................................................. 17 3. Penyelenggara ...................................................................................................................... 18 4. Peserta .................................................................................................................................. 19 5. Pengajar ................................................................................................................................ 19 6. Prasarana & Sarana.............................................................................................................. 20 4 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA 7. Biaya Penyelenggaraan ........................................................................................................ 21 8. Penilaian Hasil Belajar & Sebutan Lulusan........................................................................... 22 9. Evaluasi ................................................................................................................................. 24 10. Ketentuan Lain ...................................................................................................................... 24 LAMPIRAN 1 ............................................................................................................................................1 LAMPIRAN 2 ............................................................................................................................................3 LAMPIRAN 3 ............................................................................................................................................6 5 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA PENGANTAR Ketika pendidikan tinggi untuk para arsitek dibuka di Indonesia, misi utamanya adalah menghasilkan para arsitek profesional yang siap-pakai. Sebab itu masa pendidikannya pun lama (minimal 5 tahun) karena selain pengetahuan tentang ilmu arsitektur para mahasiswanya juga diberi pelatihan keterampilan merancang melalui penugasan di studio serta pembekalan pengalaman kerja melalui praktik kerja atau magang. Di akhir masa pendidikannya mereka diuji melalui simulasi proyek nyata dan apabila lulus mereka dinyatakan sebagai seorang Insinyur. Sekarang tidak lagi. Awalnya hanya sebutan yang berubah, dari Insinyur menjadi Sarjana Teknik. Kemudian masa pendidikannya dipersingkat menjadi 4 tahun. Selanjutnya beberapa perguruan tinggi mulai mengganti simulasi proyek nyata sebagai ujian akhir dengan tesis dan apabila lulus maka para calon arsitek tersebut dinyatakan sebagai seorang Sarjana Teknik Arsitektur. Di sepanjang masa perubahan tersebut terlontar keluhan dari para arsitek profesional. Para Sarjana Teknik tersebut menurut mereka tidak lagi siap-pakai sementara, padahal kantor mereka juga tidak menyiapkan diri untuk melatih para Sarjana Teknik tadi ketika menerimanya sebagai pegawai baru. Banyak pertemuan telah diselenggarakan untuk memecahkan persoalan di atas namun tanpa hasil sementara perguruan tinggi sendiri, di lain pihak, terus memeras silabus dan kurikulumnya agar masa pendidikan selama 4 tahun tersebut benar-benar efektif dan efisien sehingga sarat kandungan ilmiahnya dan berat pula bobot kandungannya. Untuk itu pembekalan pengalaman kerja dikurangi sehingga para lulusan itu semakin tidak siap-pakai. Dunia internasional ternyata berpendapat lain. Organisasi para arsitek se-dunia, yaitu the Union Internationale des Architectes (UIA), justru merekomendasikan bahwa seorang calon arsitek profesional minimal harus mengikuti pendidikan selama 5 tahun di perguruan tinggi disusul dengan permagangan sekurang-kurangnya 4 tahun sebelum diperbolehkan berpraktik sebagai seorang 6 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA arsitek profesional. Rekomendasi tersebut diperkirakan akan menyudutkan bagian terbesar dari para arsitek Indonesia yang berpraktik, khususnya dalam situasi praktik arsitektur lintas-negara karena pengakuan atas kinerja profesional para arsitek dalam situasi tersebut dilakukan dengan penilaian menyeluruh; mulai dari jangka waktu pendidikan sampai dengan hasil-karyanya selama berpraktik. Upaya untuk mengatasi persoalan di atas sudah lama dicoba. IAI telah banyak memprakarsai pertemuan dengan pihak perguruan tinggi dan semakin lama semakin terlihat kesesuaian pandangan antara kedua belah pihak. Di satu pihak diakui bahwa pendidikan tinggi selama 4 tahun memang belum dapat menghasilkan para arsitek siap-pakai sementara, di lain pihak, diakui pula bahwa jumlah kantor arsitek yang ada di Indonesia tidak akan mampu menampung seluruh Sarjana Teknik Arsitektur baru untuk dibekali pengalaman kerja. Karena itu solusinya adalah memberi para lulusan baru tersebut pendidikan tambahan yang sarat dengan muatan mengenai profesionalisme dalam bidang Arsitektur. Disepakati pula bahwa IAI menjadi pemrakarsa program pendidikan tambahan tersebut sedangkan pelaksanaannya ditangani bersama perguruan tinggi. Selanjutnya, program pendidikan tersebut diberi nama Pendidikan Profesi Arsitek IAI atau PPArs-IAI. Buku pedoman ini merupakan perwujudan kesepakatan di atas yang dipersiapkan untuk masa transisional, karena sebagai beban studi tahun kelima semestinya berbobot setara dengan tahuntahun sebelumnya, yaitu 18 sks per semester (beban studi normal per semester), jadi total 36 sks, yaitu beban studi minimum untuk program studi magister di Indonesia. Maka sesudah masa transisi itu, calon arsitek yang memperoleh sertifikat profesional itu setara dengan pendidikan magister arsitektur. Selain berbagai landasan hukum di dalamnya terdapat sejumlah rujukan internasional dan pola penyelenggaraan yang dapat dipilih perguruan tinggi penyelenggara supaya sejalan dengan program pendidikan di masing-masing tempat, berikut persyaratan teknisnya. Kesepakatan kerja sama penyelenggaraan pendidikan tambahan bagi para calon arsitek profesional ini telah dilakukan dengan resmi antara IAI dan beberapa perguruan tinggi yang berminat menyelenggarakannya beberapa tahun 7 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA belakangan ini. Buku pedoman ini dengan demikian merupakan bagian dari kelengkapan kesepakatan resmi tersebut agar pihak-pihak perguruan tinggi tadi dan perguruan tinggi berikutnya dapat segera menyelenggarakan pendidikan ini. 8 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 BAB 1 IKATAN ARSITEK INDONESIA LATAR BELAKANG 1. KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH TENTANG PENDIDIKAN PARA PROFESIONAL Melalui Keputusan Mentri Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia nomor 036/U/1993 dan nomor 056/U/1994, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 7 bidang keprofesian, yaitu: 1. Dokter 2. Dokter Gigi 3. Psikolog 4. Akuntan 5. Notaris 6. Insinyur 7. Arsitek Ditetapkan pula bahwa para calon pelaku dalam bidang-bidang keprofesian tersebut memerlukan pendidikan tambahan seusai pendidikan tinggi S1 untuk memenuhi tuntutan keprofesiannya masing-masing. Meskipun pendidikan tambahan tersebut tidak lagi termuat dalam Peraturan Pemerintah nomor 60/1999, IAI tetap berniat melaksanakannya dengan dalih lain; yaitu Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18/1999 tentang Jasa Konstruksi. Dalam undang-undang tersebut ditetapkan persyaratan “ahli yang profesional” untuk perencana, pelaksana, dan pengawas dalam bidang Jasa Konstruksi. Para ahli profesional tersebut disyaratkan memiliki sertifikat keahlian yang diterbitkan oleh asosiasi profesi masing-masing bekerja-sama dengan Lembaga Pengembangan 9 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Jasa Konstruksi (LPJK). Berdasarkan ketetapan tersebut pemberian sertifikat keahlian sektor pelayanan jasa bidang Arsitektur menjadi tugas dan tanggung-jawab IAI sementara persyaratan utama untuk memperoleh sertifikat keahlian itu sendiri tidak lain pendidikan tambahan di bidang keprofesian Arsitek. 2. REKOMENDASI UIA TENTANG PENDIDIKAN & KINERJA PROFESIONAL SEORANG ARSITEK Rekomendasi ini disusun bersama oleh American Institute of Architects (AIA) dan Architects’ Society of China (ASA) atas dasar penunjukan oleh UIA setelah memperoleh masukan dari semua asosiasi profesi arsitek di seluruh dunia. Intisari rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut: • Pendidikan minimal bagi seorang calon arsitek profesional adalah 5 tahun, dilanjutkan dengan permagangan sekurang-kurangnya 4 tahun • Pendidikan seorang calon arsitek profesional harus mencakup 37 butir pengetahuan sedangkan permagangannya harus menghasilkan 13 butir kemampuan (lihat lampiran 2 dan 3). IAI adalah salah satu anggota UIA sehingga selayaknya mengikuti rekomendasi tersebut namun ternyata bukan perkara mudah. Sosialisasi rekomendasi tersebut sudah dilakukan namun sampai sekarang belum tercapai kesepakatan antara IAI dan perguruan tinggi baik mengenai mekanisme pelaksanaan, pengawasan, maupun evaluasi atas cakupan 37 butir pengetahuan tersebut. Di pihak lain, pelaksanaan atas 13 butir kemampuan dalam proses permagangan justru berjalan dengan baik dan mulus. Saat ini ke 13 butir kemampuan tersebut telah dijadikan tolok-ukur dalam penilaian karya para arsitek anggota IAI yang ingin memiliki sertifikat, juga bagi yang ingin memperpanjang sertifikatnya. Selain itu 13 butir kemampuan tersebut juga telah dikonvensikan 10 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA dan diterima dengan resmi oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) sebagai standar kinerja arsitek profesional di Indonesia (lihat lampiran 3). 3. JENJANG PENDIDIKAN TINGGI BIDANG ARSITEKTUR DI INDONESIA Cakupan 37 butir pengetahuan tersebut di atas pada dasarnya harus terkandung dalam kurikulum dan silabus pendidikan tinggi bidang Arsitektur di Indonesia. Sehubungan dengan itu perlu dicermati lebih dulu bahwa sistem penjenjangan pendidikan tinggi di Indonesia dewasa ini adalah sebagai berikut: S1 (4 th) S2 (2 th) S3 (3-5 th) Pendidikan Keprofesian * (1 th) Spesialis ** (2 th) SuperSpesialis ** (3 th) 11 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Keterangan: * Hanya untuk 7 bidang keprofesian ** Hanya untuk ilmu Kedokteran & Kedokteran Gigi Setara Untuk memasukkan rekomendasi UIA ke dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia tersebut di atas pada garis besarnya tersedia 3 pilihan, yaitu: 1. Memasukkan seluruhnya dalam kurikulum dan silabus pendidikan S1 program studi Arsitektur 2. Mendistribusikannya secara proporsional ke dalam kurikulum dan silabus pendidikan S1 program studi Arsitektur serta sebagian dari kurikulum dan silabus program Pendidikan Profesi Arsitek (PPArs) IAI 3. Mendistribusikannya secara proporsional ke dalam kurikulum dan silabus pendidikan S1 program studi Arsitektur serta sebagian dari kurikulum dan silabus pendidikan S2 program studi Arsitektur. Ikatan Arsitek Indonesia selaku penanggung-jawab program PPArs-IAI memberi kebebasan kepada pihak perguruan tinggi penyelenggara program pendidikan bidang Arsitektur untuk memilih salah satu di antara pilihan di atas yang dianggap selaras dengan kondisi di perguruan tinggi masing-masing. Secara skematis, kedua pilihan di atas dapat digambarkan sebagai berikut: PILIHAN 1 S1 + PPArs-IAI * (5-6 th) S2 (2 th) Keterangan: 12 * 37 butir pengetahuan + 13 butir kemampuan profesional S3 (3-5 th) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA PILIHAN 2 S1 * (4 th) S2 (2 th) PPArs-IAI ** (1 th) S3 (3-5 th) Keterangan: * 37 butir pengetahuan ** 13 butir kemampuan profesional PILIHAN 3 S1 * (4 th) PPArsS2 IAI ** (1 th) (1th) Keterangan: * 37 butir pengetahuan ** 13 butir kemampuan profesional 13 S3 (3-5 th) PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK IAI (PPArs-IAI) JENJANG MENUJU ARSITEK PROFESIONAL DI INDONESIA Berlatar-belakang misi dan visi serta berdasarkan uraian yang telah disebutkan terdahulu Pengurus Nasional IAI menyusun jenjang menuju seorang arsitek profesional di Indonesia. Adapun skemanya adalah sebagai berikut: 14 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA S2 atau PPArs-IAI +S2 (2 th) S1 (4/5 th) PPArs-IAI (1 th) S3 (3-5th) Sertifikat & Registrasi Lisensi Program PKB D3 (Ber-syarat) Keterangan: • PKB = Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, harus diikuti para pemilik sertifikat agar dapat memperpanjang sertifikat & lisensi masing-masing • Lulusan program pendidikan D3 harus memasuki pendidikan S1 lebih dulu atau dapat langsung mengikuti jenjang menuju arsitek profesional apabila mampu memenuhi persyaratan khusus yang ditetapkan oleh IAI 15 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA 16 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 BAB 2 IKATAN ARSITEK INDONESIA PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN 1. PIHAK PENYELENGGARA PPArs-IAI adalah program pendidikan tinggi lanjutan dalam bidang Arsitektur dalam rangka mempersiapkan para lulusan perguruan tinggi program studi Arsitektur menjadi seorang arsitek profesional. PPArs-IAI dapat diselenggarakan oleh perguruan tinggi negeri maupun swasta; baik universitas, institut, maupun sekolah tinggi yang memiliki program studi bidang Arsitektur strata 1 (S1). Perguruan tinggi tersebut harus memperoleh akreditasi yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) dengan peringkat minimum B. Untuk menyelenggarakan PPArs-IAI perguruan tinggi terkait harus mengajukan usulan penyelenggaraan kepada IAI agar dapat diperiksa, direkomendasikan dan diberitahukan oleh IAI kepada Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (DepDikNas). Setelah usulan disetujui pihak peyelelenggara harus mengikat kerja sama dengan IAI dalan bentuk dokumen tertulis dengan pilihan sebagai berikut: • Antara universitas dan IAI • Antara fakultas dan IAI • Antara jurusan dan IAI (lihat lampiran) 2. SILABUS & KURIKULUM PPArs-IAI mempunyai beban studi 20 – 24 sks dan diselenggarakan selama 2 semester. 17 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kurikulum PPArs-IAI merupakan kelanjutan progran studi Arsitektur S1 dalam rangka melengkapi 37 butir pengetahuan dan memenuhi 13 butir kemampuan yang direkomendasikan oleh UIA. Pendidikan PPArs-IAI diselenggarakan dengan kurikulum yang pada garis besarnya mencakup 2 kegiatan, yaitu: • Perkuliahan • Pelatihan Perkuliahan Kegiatan perkuliahan merupakan pelengkap untuk memperkaya dan memperdalam wawasan teoritik mengenai Arsitektur, Lingkung-binaan, Etika dan Praktik Arsitektur. Mata-mata kuliah tersebut dapat dibagi rata ke dalam 2 semester dengan beban studi total bagi mata-mata kuliah tersebut minimum 4 sks tiap semester. Perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI dipersilakan mengisi materi perkuliahan dengan mengikuti sistem dan materi yang berlaku di tempat masingmasing. Pelatihan Kegiatan pelatihan diselenggarakan dalam bentuk Studio Proyek Perancangan Arsitektur berupa simulasi praktik merancang proyek nyata. Kegiatan ini diselenggarakan di tiap semester, masingmasing dengan beban studi 6 – 8 sks. Materi pelatihan ini akan diisi para instruktur yang ditunjuk IAI. 3. PENYELENGGARA Penyelenggara PPArs-IAI adalah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: • Minimal menyelenggarakan program studi S1 bidang Arsitektur 18 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 • IKATAN ARSITEK INDONESIA Minimal memperoleh akreditasi B untuk program studi S1 bidang Arsitektur 4. PESERTA Peserta PPArs-IAI adalah lulusan pendidikan tinggi program studi Arsitektur S1, S2, atau S3 yang berhasil lolos dari seleksi perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI setempat. 5. PENGAJAR Pengajar PPArs-IAI terdiri dari 2 kategori, yaitu: • Dosen penanggung-jawab mata kuliah • Instruktur studio perancangan Dosen Penanggung-jawab Mata Kuliah Dosen penanggung-jawab mata kuliah dalam PPArs-IAI dapat berstatus tenaga pengajar tetap, tidak tetap, atau pengajar tamu di perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI terkait. Ketiganya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: • Memiliki kemampuan akademis untuk mengajar di pendidikan tingkat pasca-sarjana • Memperoleh rekomendasi dari IAI untuk menjadi penanggung-jawab mata kuliah PPArsIAI Instruktur Studio Perancangan Instruktur studio perancangan dalam PPArs-IAI dapat berstatus tenaga pengajar tetap, tidak tetap, atau pengajar tamu di perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI terkait. memenuhi persyaratan sebagai berikut: • Minimal bersertifikat arsitek madya dengan pengalaman 10 tahun 19 Ketiganya harus PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA • Memperoleh penunjukan dari IAI untuk menjadi instruktur studio perancangan dalam PPArs-IAI Baik penanggung-jawab mata kuliah maupun instruktur studio perancangan dapat dibantu para asisten yang berasal dari perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI terkait. Para asisten tersebut harus berstatus tenaga pengajar tetap di perguruan tinggi terkait dan berkemampuan akademis untuk mengajar di pendidikan tingkat sarjana 6. PRASARANA & SARANA Prasarana Perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI harus menyediakan prasarana minimal sebagai berikut: • Meja kerja, kursi, dan lemari bagi setiap peserta PPArs-IAI • Stop-kontak di tempat kerja setiap peserta PPArs-IAI • Sumber energi listrik yang memadai bagi para staf administrasi, pengajar, instruktur, dan peserta untuk bekerja minimal selama 12 jam setiap hari • Penerangan dan pendingin ruangan yang memadai bagi para staf administrasi, pengajar, instruktur, dan peserta untuk bekerja minimal selama 12 jam setiap hari Sarana Perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI harus menyediakan sarana minimal sebagai berikut: • Ruangan kerja yang memadai untuk pimpinan, sekretariat, dan tenaga pengajar, serta instruktur PPArs-IAI. Fasilitas ini harus terpisah dari fasilitas program studi lainnya di perguruan tinggi terkait 20 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 • IKATAN ARSITEK INDONESIA Ruangan kuliah dan seminar, minimal 48 m2. Fasilitas ini dapat menggunakan fasilitas program studi lainnya di perguruan tinggi terkait asalkan tidak saling mengganggu jadwal masing-masing • Studio, minimal 4 m2 untuk setiap peserta dengan bengkel tempat pembuatan maket studi serta fotografi. Fasilitas ini harus terpisah dari fasilitas program studi lainnya di perguruan tinggi terkait • Perpustakaan, dapat menggunakan fasilitas program studi bidang Arsitektur S1, S2, atau S3 di perguruan tinggi terkait asalkan tidak saling mengganggu aksesibilitas masingmasing • Toilet & wc untuk para peserta PPArs-IAI dan kamar mandi untuk para staf pengajar serta instruktur. Fasilitas ini harus terpisah dari fasilitas program studi lainnya di perguruan tinggi terkait • Ruangan dan peralatan lain yang dianggap perlu untuk melancarkan penyelenggaraan PPArs-IAI Perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI juga harus menjamin kebersihan dan keamanan di seluruh sarana tempat PPArs-IAI dilaksanakan. 7. BIAYA PENYELENGGARAAN PPArs-IAI harus diselenggarakan dengan swadana. Caranya diserahkan kepada masing-masing perguruan tinggi penyelenggara dengan memperhatikan komponen biaya berikut ini: • Administrasi penyelenggaraan • Pendaftaran peserta • Uang kuliah 21 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA • Imbalan staf penanggung-jawab perkuliahan, instruktur studio, dan para asisten Khusus bagi imbalan staf penanggung-jawab perkuliahan, instruktur studio, dan para asisten perlu diperhitungkan hal-hal sebagai berikut: • Transportasi dan akomodasi penanggung-jawab dan instruktur yang berasal dari luar kota harus ditanggung perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI sesuai dengan modus transportasi yang dipakai dan untuk akomodasi yang memadai bagi mereka • Imbalan staf penanggung-jawab perkuliahan harus setara dengan staf pengajar di tingkat pasca-sarjana di perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI terkait • Imbalan para asisten harus setara dengan staf pengajar di tingkat sarjana di perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI terkait • Imbalan para instruktur studio harus mengikuti kesetaraan sebagai berikut:  Pemegang sertifikat madya berpengalaman 10 – 15 tahun disetarakan dengan Lektor Muda  Pemegang sertifikat madya berpengalaman 15 – 20 tahun disetarakan dengan Lektor Kepala  Pemegang sertifikat madya berpengalaman > 20 tahun disetarakan dengan Guru Besar  Pemegang sertifikat utama disetarakan dengan Guru Besar 8. PENILAIAN HASIL BELAJAR & SEBUTAN LULUSAN Perkuliahan Peserta PPArs-IAI harus mengikuti semua mata–kuliah wajib yang diberikan oleh perguruan tinggi 22 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA penyelenggara dan mengikuti mata-kuliah pilihan yang diminatinya. Penilaian atas hasil pembelajaran tiap mata-kuliah tersebut dilaksanakan atas dasar komponen-komponen berikut ini: • Nilai Ujian Tengah Semester (UTS) • Nilai Ujian Akhir Semester (UAS) • Nilai tugas-tugas yang diberikan di tiap mata-kuliah tersebut • Nilai absensi Penentuan persentasi nilai masing-masing komponen tersebut diserahkan kepada perguruan tinggi penyelenggara PPArs-IAI terkait. Pelatihan Peserta PPArs-IAI harus mengikuti program studio perancangan di tiap semester sampai selesai. Apabila terputus, peserta tersebut harus mengulanginya dari awal. Penilaian atas hasil pelatihan di studio perancangan dilaksanakan dalam bentuk presentasi di hadapan para penguji yang terdiri dari: • Para instruktur studio • Para penanggung-jawab mata kuliah • Para penguji eksternal Para penguji eksternal harus anggota IAI bersertifikat Madya atau Utama dari IAI Daerah atau Cabang setempat; atau dari IAI Daerah atau Cabang yang berdekatan. Kehadiran mereka sebagai penguji eksternal harus memperoleh imbalan yang memadai, sesuai dengan ketentuan yang tertulis dalam butir Biaya Penyelenggaraan. Sebutan Lulusan 23 PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Para peserta PPArs-IAI disebut Peserta, sedangkan lulusannya disebut Arsitek disingkat Ars. 9. EVALUASI Dalam rangka menjamin mutu program PPArs-IAI perlu dilakukan evaluasi berkala atas aspek akademik dan administrasi penyelenggaraannya direkomendasikan kembali sebagai penyelenggara. agar perguruan tinggi terkait dapat Untuk itu evaluasi akan dilakukan oleh Dewan Pendidikan Arsitek (DPA) bersama dengan Dewan Keprofesian Arsitek (DKA) IAI dan unsur-unsur dari profesi lain serta Pemerintah yang berkaitan dengan bidang Arsitektur setiap 3 (tiga) tahun. Adapun tolok-ukurnya adalah penilaian atas para lulusan PPArs-IAI di perguruan tinggi penyelenggara terkait dengan merujuk ke kompetensi arsitek profesional oleh IAI. 10. KETENTUAN LAIN Pedoman pelaksanaan PPArs-IAI ini akan terus disempurnakan oleh Pengurus Nasional IAI berdasarkan masukan yang diperoleh baik dari kegiatan evaluasi maupun dari perguruan tinggi penyelenggara. Setiap perubahan dan penyempurnaan akan diinformasikan baik ke perguruan tinggi yang sudah menyelenggarakan PPArs-IAI menyelenggarakannya. 24 maupun yang berminat untuk PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA 25 LAMPIRAN 1 CONTOH KURIKULUM SEMESTER 1 SEMESTER 2 Studio Perancangan Proyek Arsitektur 1 6 sks Mata Kuliah Wajib: Teori Arsitektur Lanjutan 2 sks Mata Kuliah Pilihan 1 2 sks Studio Perancangan Proyek Arsitektur 2 6 sks Mata Kuliah Wajib: Etika 2 sks Mata Kuliah Pilihan 2 2 sks TOTAL SEMESTER 1 SEMESTER 2 Studio Perancangan Proyek Arsitektur 1 8 sks Mata Kuliah Wajib: Teori Arsitektur Lanjutan 2 sks Studio Perancangan Proyek Arsitektur 2 8 sks Mata Kuliah Wajib: Etika 2 sks Mata Kuliah Pilihan 2 2 sks TOTAL SEMESTER 1 20 sks Studio Perancangan Proyek Arsitektur 1 lampiran 22 sks 8 sks PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA SEMESTER 2 Mata Kuliah Wajib: Teori Arsitektur Lanjutan 2 sks Mata Kuliah Pilihan 1 2 sks Studio Perancangan Proyek Arsitektur 2 8 sks Mata Kuliah Wajib: Etika 2 sks Mata Kuliah Pilihan 2 2 sks TOTAL SEMESTER 1 SEMESTER 2 24 sks Studio Perancangan Proyek Arsitektur 1 6 sks Mata Kuliah Wajib: Sejarah & Teori Arsitektur 2 sks Mata Kuliah Pilihan 1 2 sks Mata Kuliah Pilihan 2 2 sks Studio Perancangan Proyek Arsitektur 2 6 sks Mata Kuliah Wajib: Etika 2 sks Mata Kuliah Pilihan 3 2 sks Mata Kuliah Pilihan 4 2 sks TOTAL lampiran 24 sks PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA LAMPIRAN 2 37 BUTIR KRITERIA KEAHLIAN, KETRAMPILAN, & PENGETAHUAN 1. Verbal Verbal Skills 2. Grafis Graphic Skills 3. Riset Research Skills 4. Berpikir Kritis Critical Thinking Skills 5. Dasar-Dasar Perancangan Fundamental Design Skills 6. Kolaborasi Collaborative Skills 7. Perilaku Manusia Human Behaviour 8. Keragaman Manusia Human Diversity 9. Sejarah dan Preseden History & Precedent 10. Tradisi Nasional & Regional National & Regional Traditions 11. Tradisi Barat Western Traditions 12. Tradisi Non-Barat Non-Western Traditions 13. Pelestarian Lingkungan Environmental Conservation 14. Aksesibilitas Accessibilitas 15. Kondisi Tapak Site Conditions 16. Sistem Keteraturan Formal Formal Ordering System lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA 17. Sistem Struktur Structural Systems 18. Sistem Penyelamatan dari Bangunan Building Life-safety Systems 19. Sistem Sampul Bangunan Building Envelope Systems 20. Sistem Lingkung Bangunan Building Environmental Systems 21. Sistem Pelayanan Bangunan Building Service Systems 22. Integrasi Sistem-Sistem Bangunan Building System Integration 23. Tanggung-jawab Hukum Legal Responsibility 24. Kepatuhan Terhadap Peraturan Building Code Compliance Bangunan 25. Bahan Bangunan & Penerapannya Building Materials & Assemblies 26. Ekonomi Bangunan & Pengendalian Building Economics & Cost Control Biaya 27. Pengembangan Detail Rancangan Detailed Design Development 28. Dokumentasi Grafik Graphic Documentation 29. Perancangan Komprehensif Comprehensive Design 30. Persiapan Program Programme Preparation 31. Konteks Hukum Praktik Arsitektur Legal Context of Architecture Practice 32. Organisasi & Manajemen Praktik Practice Organization & Management 33. Kontrak & Dokumentasi Contract & Documentations lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA 34. Pemagangan Professional Internship 35. Wawasan Peran Arsitek Breadth of the Architect’s Role 36. Kondisi Masa Silam dan Kini Past & Present Conditions for Architecture 37. Etika & Penilaian Profesional Ethics & Professional Judgement lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA LAMPIRAN 3 BAB 1 STANDAR KOMPETENSI ARSITEK Standar Kompetensi Arsitek ini disusun sebagai acuan dalam menilai kemampuan seorang arsitek dalam menjalankan keahliannya. Standar ini dimaksudkan untuk merumuskan kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang disyaratkan. A. MAKSUD dan TUJUAN Panduan ini dimaksudkan sebagai sebuah rambu baik untuk para penimbang atau penakar nilai (assessor) maupun mereka yang ingin mengikuti program sertifikasi arsitek profesional Ikatan Arsitek Indonesia, terutama untuk kategori Arsitek Utama, agar memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Arsitek Internasional (Union Internationale des Architectes disingkat UIA). Panduan ini berisi butir-butir kompetensi yang harus dimiliki seorang arsitek profesional sebagaimana telah ditetapkan oleh Perserikatan Arsitek Internasional tersebut di atas, yang ditulis dalam bahasa Inggris sesuai dengan aslinya dan telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia agar diperoleh teks dalam bentuk selengkap mungkin dan dengan acuan yang jelas. Setiap butir kompetensi tersebut di atas menuntut kriteria dan cara memberi nilai berikut pertimbanganpertimbangannya. Mereka yang ingin mengikuti program sertifikasi arsitek profesional Ikatan Arsitek Indonesia perlu mengetahui kriteria dan cara memberi nilai berikut pertimbangan-pertimbangannya tersebut agar mampu menyiapkan diri dengan dokumen selengkap mungkin. lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Para penimbang atau penakar nilai (assessor), di lain pihak, perlu mengetahui dan memahami seluruh teks dalam panduan ini karena mereka harus memberi penilaian kepada dokumen yang diajukan oleh mereka yang ingin mengikuti program sertifikasi arsitek profesional Ikatan Arsitek Indonesia secara logis berdasarkan kriteria yang terdapat dalam butir-butir kompetensi di atas. B. LANDASAN Panduan ini disusun atas dasar 13 butir kompetensi yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Arsitek Internasional (Union Internationale des Architectes disingkat UIA) sebagai kriteria seorang arsitek profesional. Adapun penjabarannya menjadi sebuah petunjuk cara memberi nilai berikut pertimbangan-pertimbangannya dibuat dengan merujuk ke format yang telah ditetapkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN). C. DASAR PEMIKIRAN Tiap butir kompetensi yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Arsitek Internasional (Union Internationale des Architectes disingkat UIA) memiliki tingkatan yang berbeda. Sehubungan dengan itu terdapat sejumlah istilah yang perlu dijabarkan lebih lanjut agar dapat ditakar, yaitu: 1. Ability to create architectural design Istilah ini menunjukkan suatu keterampilan yang perlu ditampilkan melalui gambar rancangan. Penampilan tersebut harus ditunjukkan dalam bentuk suatu hasil pekerjaan berikut penjelasannya, mulai dari gagasan awal sampai dengan hasil-akhir. 2. Adequate knowledge Istilah ini menunjukkan suatu kemampuan yang juga dapat ditakar melalui gambar rancangan apabila gayut atau dapat juga ditakar dengan mengacu ke transkrip mata-ajaran yang diikuti para peserta program sertifikasi arsitek profesional Ikatan Arsitek Indonesia ketika mereka menempuh pendidikannya di perguruan tinggi atau yang lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA setara dengan itu; atau dengan menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan. Kemampuan tersebut di atas menuntut seseorang untuk menunjukkan bahwa dirinya menguasai berbagai jenis pengetahuan spesifik. Untuk itu yang bersangkutan harus mampu membuktikan penguasaannya atas berbagai jenis pengetahuan spesifik di atas melalui contoh-contoh pemecahan persoalan yang berkaitan dengan pengetahuan yang dimaksud. Dengan pembukitan tersebut yang bersangkutan sudah dianggap telah menjalani tahap mengenal, membedakan dan mengulangi. 3. Understanding Istilah ini menunjukkan kemampuan seseorang untuk menjelaskan apa yang telah dipahaminya. Untuk itu yang bersangkutan harus memperlihatkan bahwa dirinya mampu mengatur dokumen yang berkaitan dengan objek yang dimengertinya tersebut dengan jeli. Pemahaman merupakan tingkat penguasaan atas sesuatu yang dialami seseorang. Untuk itu yang bersangkutan harus membuktikannya dengan jalan mampu menjelaskan baik gejala yang dialaminya maupun teori-teori yang mendukungnya, bukan dengan mengutip pendapat pihak lain melainkan dengan kata dan kalimat yang disusunnya sendiri. Sebab itu understanding memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada awareness, yang penguasaannya cukup dibuktikan dengan cara memperlihatkan kemampuan mengulangi apa yang disodorkan kepadanya. lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA BAB 2 SUSUNAN UNIT KOMPETENSI Kode Unit ARS 01 Judul Unit Perancangan Arsitektur Uraian Unit Kemampuan menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan. (Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable) Sub Kompetensi 1 2 Estetika Persyaratan Teknis Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu mengekspresikan pandangan serta menentukan pilihan secara kritis dan memberi keputusan estetis, lalu mencerminkannya secara konseptual dalam sebuah rancangan 2 Mampu menjelaskan dan menerapkan konsep warna, bahan, komposisi, proporsi, irama dan skala 3 Mampu mengkaji berbagai pengalaman ketika melakukan pemilihan struktur dan bahan serta unsur-unsur estetikanya, lalu mewujudkannya dalam bentuk-bentuk 3 dimensi 1 Mampu menyelidiki lalu menetapkan persyaratan luasan, organisasi, fungsi dan sirkulasi ruang, ruangan serta bangunan; baik di dalam maupun di sekitar bangunan yang bersangkutan lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA 2 Mampu mengenali, memahami dan mengikut-sertakan kaidah serta standar yang dikeluarkan oleh badan-badan terkait; termasuk yang berkenaan dengan faktor keselamatan, keamanan, kenyamanan dan lainlainnya Acuan Penilaian Periksa kelengkapan dokumen dan kelengkapan keterangan tentang hasil rancangan bangunan; terutama konsep tapak, denah, tampak, potongan, perspektif dan detail-detail yang mendukung konsep estetika dan persyaratan teknis di atas Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Mahir Arsitek Madya : Mahir Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 02 Judul Unit Pengetahuan Arsitektur Uraian Unit Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia. (Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences) SubKompetensi 1 2 Pengetahuan tentang Sejarah Arsitektur Pengetahuan tentang Teori Arsitektur Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menjelaskan garis besar sejarah arsitektur dan perkembangannya 2 Mampu menyusun konsep yang dihasilkan dari masukan sejarah 1 Mampu menjelaskan berbagai teori arsitektur dan pemikiran-pemikiran yang melandasinya 2 Mampu menjelaskan gaya bangunan yang diterapkan dalam rancangan berikut aliran yang terlibat seperti klasisisme, neo-klasisisme, modernisme, pasca-modern, regionalisme kritis dan seterusnya, dengan memperlihatkan contoh karya-karya yang berkaitan dengan aliran-aliran tersebut. Acuan Penilaian lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Periksa keterangan yang menjelaskan gaya bangunan serta aliran yang melandasinya di gambar denah dan tampak; juga penggunaan ruangan yang menjamin keselamatan, kenyamanan ruang-gerak, efisiensi dan skala manusia berikut kelayakan pelaksanaannya Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Tahu Arsitek Madya : Tahu Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 03 Judul Unit Pengetahuan Seni Uraian Unit Pengetahuan tentang seni rupa dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur (Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design) Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menjelaskan berbagai berbagai kaidah seni rupa dan pengaruhnya dalam rancangan massa bangunan, rancangan tata ruang dalam, rancangan warna ruangan dan bangunan, garis bidang tekstur dalam ekspresi bangunan Acuan Penilaian Periksa ketaat-asasan kaidah estetik yang dipilih sebagaimana tertera di atas dokumen, khususnya yang berkaitan dengan proporsi, warna, tekstur, urutan, irama dan keseimbangan Periksa kejelasan penerapan kaidah komposisi gugusan massa dan bagian bangunan yang menampilkan proporsi, warna, tekstur, urutan, irama dan keseimbangan tersebut sesuai dengan jenis obyek yang dirancang Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Tahu Arsitek Madya : Tahu Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 04 Judul Unit Perencanaan dan Perancangan Kota Unit Kompetensi Pengetahuan yang memadai tentang perencanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perencanaan itu (Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process) Sub Kompetensi 1 2 Perencanaan Kota Perancangan Kota Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menerapkan cara memenuhi persyaratan perkotaan, khususnya KDB, KLB, KDH, garis sempadan, kepadatan, ketinggian dan jarak bebas bangunan 2 Mampu menjelaskan sumbangan positif kehadiran bangunan terhadap ruang umum, khususnya jalan, jalan untuk pejalan kaki dan fasilitas untuk penyandang cacat 1 Mampu menjelaskan dampak kehadiran obyek perancangan terhadap kemungkinan mengundang pertumbuhan fasilitas tambahan atau sampingan di lingkungan kota yang bersangkutan 2 Mampu menjelaskan pengaruh kehadiran obyek perancangan terhadap bentukan ruang kota dan estetika urban di kawasan tersebut. Acuan Penilaian Periksa apakah terdapat akibat sampingan yang mengorbankan kepentingan umum dari segi penghambatan lalu lintas, beban langsung yang ditimbulkan oleh kepadatan bangunan yang diprakirakan, pertambahan jumlah kendaraan di jalan umum sekitar bangunan yang dirancang lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Periksa sumbangan bangunan terhadap kepentingan umum, keselamatan pemakai ruang umum, peluang terjadinya kegagalan bangunan atau kegagalan pelayanan bangunan, kecukupan perputaran sirkulasi, kecukupan toilet dan tempat wudhu Periksa antisipasi terhadap pedagang kaki lima, khusus dalam kasus perancangan bangunan tinggi atau yang berkepadatan tinggi Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Bisa Arsitek Madya : Bisa Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 05 Judul Unit Hubungan antara Manusia, Bangunan dan Lingkungan Unit Kompetensi Memahami hubungan antara manusia dan bangunan gedung serta antara bangunan gedung dan lingkungannya, juga memahami pentingnya mengaitkan ruang-ruang yang terbentuk di antara manusia, bangunan gedung dan lingkungannya tersebut untuk kebutuhan manusia dan skala manusia. (Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale) Sub Kompetensi 1 2 Manusia dan Bangunan Bangunan dan Lingkungan Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu mengumpulkan dan menganalisis informasi yang dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan-ruang pemakai bangunan 2 Mampu mengumpulkan dan menganalisis standar-standar kebutuhan ruang dan menerapkannya dalam rancangan 3 Mampu merancang susunan ruang yang memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan dan kenyamanan 4 Mampu menganalisis dan memecahkan permasalahan yang akan timbul dalam hubungan antara bangunan dan penggunanya 1 Mampu menghindari dampak negatif kehadiran bangunan yang dirancang di suatu lingkungan 2 Mampu menyusun konsep rancangan yang tanggap terhadap lokasi dan lingkungan-binaan di sekitarnya 3 Mampu mempadukan kepentingan pemakai gedung terhadap kepentingan masyarakat dan pihak-pihak terkait lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 3 Manusia dan Lingkungan IKATAN ARSITEK INDONESIA 1 Mampu menggubah bangunan yang tidak menambah polusi di lingkungan di sekitarnya, baik yang bersifat terukur (tangible) seperti buangan beracun maupun yang tak terukur (intangible) seperti wajah lingkungan atau street picture 2 Mampu menggugah para pengguna bangunan dan masyarakat sekitar untuk memelihara lingkungan setelah berdirinya bangunan yang dirancang Acuan Penilaian Periksa kejelasan sumbangan obyek perancangan terhadap pemakai ruang terbuka di antara batas bangunan, pemanfaatan ruangan yang sesuai standar keamanan, keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan pencapaian (termasuk anak kecil, orang tua, dan penyandang cacat tubuh) serta hubungan antar-ruang pada tiap lapis jalan Periksa sumbangan positif dari penyelesaian jarak bangunan berupa taman atau ruang terbuka yang dapat dimasuki umum, tergantung dari jenis bangunan di kawasan yang sesuai atau terkait serta penyelesaian titik-masuk yang mengantisipasi penyandang cacat Periksa sumbangan positif obyek perancangan terhadap upaya menghindari ketimpangan sosial Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Mahir Arsitek Madya : Mahir Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 06 Judul Unit Pengetahuan Daya Dukung Lingkungan Unit Kompetensi Menguasai pengetahuan yang memadai tentang cara menghasilkan perancangan yang sesuai daya dukung lingkungan. (An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design) Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu memberi penjelasan kepada pemakai jasa mengenai pentingnya memiliki rancangan bangunan yang sesuai dengan daya-dukung lingkungan ragawi dan sosial, khususnya yang berkaitan dengan dayadukung tanah, vegetasi, pencemaran dan kepadatan 2 Mampu mengumpulkan informasi mengenai bahan serta struktur bangunan yang akan digunakan dalam rancangan dan menganalisis pengaruhnya terhadap lingkungan 3 Mampu mengajukan gagasan penghematan energi dan menerapkannya dalam rancangan Acuan Penilaian Periksa kejelasan tentang pemanfaatan teknologi sadar-lingkungan seperti penghematan pemakaian sumber daya alam, pengudaraan yang tidak mengakibatkan pengikisan lapisan ozon, pemanfaatan sistem dan prinsip daur-ulang, kecukupan penghijauan terhadap luas lahan dan permukaan bangunan serta penerapan prinsip ramah-lingkungan Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Bisa Arsitek Madya : Bisa Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 07 Judul Unit Peran Arsitek di Masyarakat Unit Kompetensi Memahami aspek keprofesian dalam bidang Arsitektur dan menyadari peran arsitek di masyarakat, khususnya dalam penyusunan kerangka acuan kerja yang memperhitungkan faktor-faktor sosial (Understanding of the profession of architecture and the role of architects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors) Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu membuat rancangan yang mewadahi kepentingan masyarakat dan sejarah serta tradisi bangunan setempat 2 Mampu mengkaji dampak perancangan terhadap masyarakat dengan mempertimbangkan faktor sosialnya 3 Mampu mematuhi kode etik dan kaidah tata-laku keprofesian arsitek 4 Mampu memenuhi kepentingan masyarakat sebagaimana disyaratkan oleh ketentuan peraturan dan perundang-undangan Acuan Penilaian Periksa kejelasan perancangan yang mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan pemesan serta pemakai dalam bentuk program dan penampilan bangunan yang serasi terhadap sekitarnya; khususnya dari segi besaran, ketinggian, bahan dan warna lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Periksa lampiran bagan alir tata-olah perancangan, berita-acara pertemuan atau menanyakan langsung peran perancang yang bersangkutan dalam masyarakat dan pendapatnya tentang bangunan yang menimbulkan kesenjangan sosial Arsitek Pratama Arsitek Madya Arsitek Utama : Bisa : Bisa : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 08 Judul Unit Persiapan Pekerjaan Perancangan Unit Kompetensi Memahami metode penelusuran dan penyiapan program rancangan bagi sebuah proyek perancangan (Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project) Sub Kompetensi 1 2 Metode Pengumpulan Data Penyusunan Program Rancangan Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu mengenali kebutuhan data dan menyusun strategi pengumpulannya dalam rangka pembuatan program perancangan 2 Mampu mencari data, peraturan bangunan dan standar yang dibutuhkan dalam perancangan 1 Mampu menganalisis data yang telah diperoleh, untuk dijadikan sumber dalam pekerjaan perancangan 2 Mampu menyusun dan menjelaskan program rancangan kepada pemakai jasa Acuan Penilaian Periksa kejelasan dan kelengkapan proses pengumpulan dan pengolahan data Periksa keterangan tata-olah pengkajian perancangan melalui tanya-jawab Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Mahir Arsitek Madya : Mahir Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 09 Judul Unit Pengertian Masalah Antar-Disiplin Uraian Unit Memahami permasalahan struktur, konstruksi dan rekayasa yang berkaitan dengan perancangan bangunan gedung. (Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design) Sub Kompetensi 1 2 Pengetahuan Sistem Struktur dan Konstruksi Pengetahuan Sistem Mekanikal, Elektrikal, Elektronika dan Plambing Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menunjukkan berbagai alternatif jenis struktur dan konstruksi 2 Mampu menjelaskan konsep berbagai jenis struktur dan konstruksi yang akan diterapkan dalam bangunan 3 Mampu menetapkan jenis struktur dan konstruksi serta menilai kelebihan maupun kekurangannya dan membuat rekomendasi dalam kaitannya dengan kebutuhan pemberi tugas 1 Mampu menunjukkan berbagai alternatif Sistem Mekanikal, Elektrikal, Elektronika dan Plambing 2 Mampu menjelaskan konsep berbagai Sistem Mekanikal, Elektrikal, Elektronika dan Plambing yang akan diterapkan dalam bangunan 3 Mampu menetapkan Sistem Mekanikal, Elektrikal, Elektronika dan Plambing, serta menilai kelebihan maupun kekurangannya; dan membuat rekomendasi dalam kaitannya dengan kebutuhan pemberi tugas Acuan Penilaian Periksa kejelasan pertimbangan pemilihan jenis struktur dan konstruksi serta Sistem Mekanikal, Elektrikal, Elektronika dan Plambing lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Periksa gambar denah dan potongan serta keterangan tentang jenis struktur dan konstruksi serta Sistem Mekanikal, Elektrikal, Elektronika dan Plambing yang dipilih, terutama untuk bangunan tertentu Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Bisa Arsitek Madya : Bisa Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 10 Judul Unit Pengetahuan Fisik dan Fisika Bangunan Unit Kompetensi Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan fisik dan fisika, teknologi dan fungsi bangunan gedung sehingga dapat melengkapinya dengan kondisi internal yang memberi kenyamanan serta perlindungan terhadap iklim setempat (Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate) Sub Kompetensi 1 Kriteria Unjuk Kerja Mampu menjelaskan cara penanganan pencahayaan dan penghawaan di dalam bangunan Faktor Kenyamanan di Dalam Bangunan Mampu menjelaskan dasar pertimbangan sistem akustik yang diterapkan 2 Faktor Perlindungan Bangunan Terhadap Iklim Mampu menjelaskan pemilihan bahan dan teknologi bahan bangunan untuk perlindungan bangunan terhadap iklim dan cuaca Mampu menjelaskan cara menangani masalah dan perawatan bahan bangunan yang dipakai Acuan Penilaian Periksa kejelasan kaidah-kaidah pencahayaan, pengaliran udara, perimbangan kelembaban udara, akustik, dan perlindungan terhadap iklim dan cuaca, sesuai cakupan objek rancangan Periksa gambar denah dan potongan untuk intensitas cahaya alami, bahan dan bentuk langit-langit untuk akustik, dan teritis untuk perlindungan dari iklim dan cuaca, serta gambar rancangan langit-langit untuk titik lampu, dan sistem penghawaan lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Periksa gambar yang menunjukan kelengkapan alat untuk perawatan bangunan Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Mahir Arsitek Madya : Mahir Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 11 Judul Unit Penerapan Batasan Anggaran dan Peraturan Bangunan Unit Kompetensi Menguasai keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pihak pengguna bangunan gedung dalam rentang-kendala biaya pembangunan dan peraturan bangunan (Necessary design skills to meet building users requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations) Sub Kompetensi 1 2 Pengetahuan mengenai Anggaran Bangunan Pengetahuan Peraturan Bangunan Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menjelaskan penghitungan biaya bangunan yang diterapkan dalam perancangan terkait 2 Mampu mengenali berbagai faktor yang berpengaruh atas biaya bangunan 3 Mampu membuat berbagai alternatif rancangan sebagai pemecahan atas masalah pembiayaan bangunan 1 Mampu mengenali peraturan-peraturan bangunan yang harus diperhatikan dalam proses perencanaan dan perancangan 2 Mampu menerapkan peraturan-peraturan bangunan dalam rancangan Acuan Penilaian Periksa kejelasan tentang analisis biaya, penghitungan volume dan pengaruh berbagai faktor, khususnya yang berkaitan dengan lokasi, tipologi bangunan, metode dan teknologi membangun lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Periksa dokumen konstruksi sesuai dengan peraturan teknis bangunan terkait Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Mahir Arsitek Madya : Mahir Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 12 Judul Unit Pengetahuan Industri Kontruksi dalam Perencanaan Uraian Unit Menguasai pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, peraturan dan tata-cara yang berkaitan dengan proses penerjemahan konsep perancangan menjadi bangunan gedung serta proses mempadukan penataan denah-denahnya menjadi sebuah perencanaan yang menyeluruh (Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning) Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menjelaskan organisasi di dalam industri konstruksi yang berhubungan dengan konsep perancangan yang akan diterapkan oleh yang bersangkutan 2 Mampu menjelaskan peraturan dan prosedur di dalam industri konstruksi yang berhubungan dengan konsep perancangan yang akan diterapkan oleh yang bersangkutan 3 Mampu menjelaskan keterkaitan konsep perancangan dengan keseluruhan perancangan Acuan Penilaian Periksa kejelasan tentang pengelolaan perancangan mulai pada tahap gagasan hingga penerjamahannya ke dalam seluruh rancangan, termasuk proses pengadaan dan pelaksanaan pembangunannya Periksa laporan lengkap atau bertanya langsung kepada pemohon tentang tata-olah perancangan, juga lampiran tentang laporan pertemuan dan perubahan-perubahan perancangan selama proses pembangunan Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Mahir Arsitek Madya : Mahir Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Kode Unit ARS 13 Judul Unit Pengetahuan Manajemen Proyek Uraian Unit Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai pendanaan proyek, manajemen proyek dan pengendalian biaya pembangunan (Adequate knowledge of project financing, project management and cost control) Kriteria Unjuk Kerja 1 Mampu menunjukkan hubungan antara pendanaan dan proses perancangan 2 Mampu menunjukkan permasalahan yang dihadapi dalam dengan manajemen proyek terkait, khususnya yang berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi 3 Mampu menunjukkan cara pengendalian biaya proyek sesuai dengan tahapan-tahapannya Acuan Penilaian Periksa kejelasan pengendalian biaya dan pengelolaan proyek Periksa alir-biaya selama pelaksanaan dan bar chart dalam dokumen proyek, kemudian dicocokkan dengan kenyataan pelaksanaan sebagaimana dilaporkan dalam notulen rapat lapangan Tingkat penguasaan Unit Kompetensi : Arsitek Pratama : Bisa Arsitek Madya : Bisa Arsitek Utama : Mahir lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA B A B III P E D O M A N U M U M P E N IL A IA N A . T O L O K U K U R P E N IL A IA N N o. K R IT E R I A K O M P E T E N S I AU AM AP K r it e r ia K E T R A M P IL A N S E B A G A I A R S IT E K [5 ] [1 0 ] [1 2 ] m e n g u a s a i c a r a p e n y id ik a n d a n p e n y u s u n a n u r a ia n p e k e rja a n p era n ca n g a n P a h a m a k a n h u b u n g a n a n ta r m a n u s ia d a n b a n g u n a n , b a n g u n a n d e n g a n lin g k u n g a n s e r t a p e r lu n y a m e n g a itk a n r u a n g y a n g t e r ja d i d e n g a n s k a la d a n k e b u t u h a n m a n u s ia P a h a m a k a n fu n g s i, fis ik d a n t e k n o lo g i b a n g u n a n u n t u k m e n d a p a t k a n k e n y a m a n a n d a n p e r lin d u n g a n t e r h a d a p ik lim P a h a m a k a n k e p r a n a t a a n in d u s t r i k o n s t ru k s i y a n g t e r k a it d a la m p e r w u ju d a n k a ry a P E R A N A R S IT E K D A N D IS IP L IN Y A N G T E R K A IT [4 ] [6 ] [9 ] [1 3 ] [7 ] M e n g e r t i a k a n p e re n c a n a a n , p e r a n c a n g a n k o ta d a n k e t ra m p ila n y a n g t e r k a it d a la m p r o s e s p e r e n c a n a a n itu M e n g e rti a k a n c a ra m e m b u a t p e re n c a n a a n y a n g m e n d u k u n g p e le s ta r ia n lin g k u n g a n M e n g e r t i a k a n p e ra n c a n g a n A r s it e k t u r, k o n s t ru k s i d a n e n g in e e r in g y a n g b e rh u b u n g a n d e n g a n p e ra n c a n g a n b a n g u n a n M e n g e r t i a k a n p e m b ia y a a n , m a n a je m e n p r o y e k s e r t a p e n g e n d a lia n b ia y a M e n g e r t i a k a n p ro f e s i d a n p e r a n a r s it e k d a la m m a s y a r a k a t k h u s u s n y a y a n g m e m p e r tim b a n g k a n m a s a la h s o s ia l P E N G E T A H U A N A R S IT E K T U R [2 ] [3 ] M e n g e t a h u i t e n t a n g s e ja r a h , te o r i a r s it e k tu r d a n s e n i t e r k a it , t e k n o lo g i d a n p e n g e t a h u a n te n t a n g m a n u s ia M e m ilik i p e n g e ta h u a n t e n ta n g s e n i r u p a y a n g b e rp e n g a r u h p a d a k u a lita s r a n c a n g a n a r s it e k t u r U n t u k m e m p e r o le h S K A d e n g a n k u a lif ik a s i p e m b e r la k u a n lampiran M M M M M M M M M M M M M M M M M M B B B M M M B B B B B B B M T T M T T M T : Tahu B : B is a M : M a h ir Resiko Kecil. Dampak Kecil. Kompleksitas Rendah. [8 ] M e m ilik i k e t r a m p ila n m e r a n c a n g y a n g s e s u a i k e b u t u h a n p e n g g u n a b a n g u n a n d a la m b a t a s a n g g a r a n b ia y a d a n p e r a t u r a n b a n g u n a n M Resiko Sedang dan Kecil. Dampak & Kecil. Kompleksitas Sedang & Rendah. [1 1 ] K e m a m p u a n m e n g h a s ilk a n r a n c a n g a n A r s it e k t u r y a n g m e m e n u h i p e r s y a r a ta n e s t e tik a d a n t e k n is s e r ta b e rt u ju a n m e le s ta r ik a n lin g k u n g a n Resiko Besar, Sedang, Kecil. Dampak Besar, Sedang, Kecil. Kompleksitas Tinggi, Sedang, Rendah. [1 ] AU AM AP in te r n nas. nas. PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Catatan: Tolak Ukur Penilaian untuk Arsitek Utama, Arsitek Madya, dan Arsitek Utama adalah sama, perbedaan terletak pada Bagan Tingkat Kewenangan Tahu : Menguasai suatu pengetahuan dan secara prinsip dapat menjelaskan atau mendefinisikan pengetahuan tersebut Biasa : Menguasai suatu pengetahuan dan secara prinsip dapat menjelaskan atau mendefinisikan pengetahuan tersebut serta menerapkannya dalam praktek Mahir : Menguasai suatu pengetahuan dan secara prinsip dapat menjelaskan atau mendefinisikan pengetahuan tersebut serta menerapkannya dalam praktek juga mampu mengatasi persoalan di lapangan secara langsung dengan pemecahan yang jitu Resiko : Korban yang timbul bila terjadi kegagalan (dikaitkan dengan nyawa manusia) Dampak : Besar kecil pengaruhnya terhadap lingkungan dalam segi estetika, kesehatan, kenyamanan, ekonomi, dst. B. PEDOMAN ASSESMEN KOMPETENSI ARSITEK MENURUT TINGKATAN KOMPLEKSITAS I. KOMPLEKSITAS TINGGI 1. Kriteria Normatif a Menimbulkan risiko yang besar terhadap manusia jika terjadi kegagalan (life safety and security) b Mempunyai dampak yang besar terhadap lingkungan dalam segi estetika, kesehatan, kenyamanan dst (human welfare) 2. Kriteria Perancangan Melibatkan multidisiplin keahlian: a Ahli Struktur lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA b c d e f g h Ahli Mekanikal (AC, lift, eskalator, dan lain-lain) Ahli Elektrikal (sistem penerangan, sistem komunikasi, sistem catur-daya dan lain-lain) Ahli Plambing (pemadam kebakaran, dan lain-lain) Ahli Lansekap Ahli Perencanaan Kota Konsultan Khusus Lembaga pengguna jasa yang multi disiplin (bukan perorangan) Catatan: Dalam hal ini Arsitek berfungsi sebagai penanggung jawab Perancangan sekaligus manajemen perancangan. 3. Tipe bangunan/lingkungan binaan dengan karakter khusus serta memiliki kompleksitas dan tingkat kesulitan tinggi antara lain: a. Tipe bangunan komersial: Hotel Berbintang, Apartemen, High Rise Office, Shopping Mall. b. Tipe Bangunan Umum: Galeri, Ruang Konser, Museum, Monumen, Istana, Bandara. c. Tipe Bangunan Pendidikan: Kampus, Pusat Penelitian/Riset, Laboratorium. d. Tipe Bangunan Pelayanan Medis: Rumah Sakit, Sanatorium. e. Tipe Bangunan Institusi: Kantor Kedutaan, Kantor Lembaga Tinggi Negara, Bangunan dengan dekorasi khusus, Pemugaran, Renovasi. f. Type Bangunan Campuran: Pertokoan - Hunian - Kantor - Hotel dan lain-lain. II. 1. KOMPLEKSITAS SEDANG Kriteria Normartif a. Menimbulkan risiko sedang/tidak terlalu besar terhadap pengguna bangunan jika terjadi kegagalan (medium life safety and security) b. Tidak mempunyai dampak yang terlalu besar terhadap lingkungan dalam segi estetika, kesehatan, kenyamanan, dst (medium impact on environment) 2. Kriteria Perancangan Melibatkan disiplin keahlian yang memiliki Sertifikat Keahlian yang diterbitkan oleh Asosiasi Keprofesiannya dan telah di-Registrasi antara lain a Ahli Struktur lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 b c d IKATAN ARSITEK INDONESIA Ahli Mekanikal (AC, lift, eskalator, dan lain-lain) Ahli Elektrikal (sistem penerangan, sistem komunikasi, sistem catur-daya dan lain-lain) Tidak harus melibatkan Tenaga Ahli lainnya atau Konsultan Khusus. 3. Tipe bangunan/lingkungan binaan dengan karakter dan kompleksitas tingkat kesulitan sedang sesuai dengan Kriteria Normatif dan Kriteria Perancangan diatas, antara lain: a. Tipe bangunan kelompok hunian b. Tipe bangunan komersial: c. Tipe bangunan sekolah bertingkat d. Tipe bangunan pelayanan medis e. Tipe bangunan kantor f. Tipe bangunan campuran III. 1. KOMPLEKSITAS RENDAH Kriteria Normartif a. Menimbulkan risiko kecil terhadap pengguna bangunan jika terjadi kegagalan (low life safety and security) b. Mempunyai dampak yang kecil terhadap lingkungan segi estetika, kesehatan, kenyamanan, dst (low impact on environment) 2. Kriteria Perancangan Selain Arsitek , tidak harusmelibatkan disiplin keahlian lain 3. Tipe bangunan/lingkungan binaan dengan karakter sederhana dan tingkat kompleksitas yang rendah, maksimum dua lantai, antara lain: a. Tipe rumah sederhana b. Tipe fasilitas kesehatan sederhana seperti puskesmas c. Tipe sekolah sederhana d. Tipe bangunan kantor sederhana seperti kantor kepala desa, kecamatan Kriteria diatas merupakan pedoman umum, yang masih memungkinkan terjadinya kasus-kasus khusus diluar kriteria diatas (atau “grey area”) tergantung pertimbangan Tim Assesor Nasional (TAN) dan persetujuan lampiran PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI ARSITEK 2 0 0 7 IKATAN ARSITEK INDONESIA Dewan Keprofesian Arsitek (DKA.) TABEL PEDOMAN ASSESMEN KOMPETENSI ARSITEK MENURUT TINGKATAN KOMPLEKSITAS nas UTAMA MADYA PRATAMA dll yg kompleks laboratoria mix highrise monumen kampus rumah sakit museum ARSITEK ged. Konser high rise apartm high rise office hotel berbintang bangunan campuran kantor pelayanan medis sekolah bang. komersial kelompok hunian ruko kantor lurah, camat puskesmas sekolah dasar rumah sederhana lemb.multi disiplin Tipe bangunan konsultan khusu ahli perenc. kota ahli pertamanan ahli plumbing ahli mekanikal ahli sipil/struktur Kriteria Normatif arsitkek ahli elektrikal Perancangan Tingkat Kompleksitas int. Risiko Tinggi atau Dampak Besar ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ●  I I  Kompleksitas tinggi Risiko Sedang atau Dampak Sedang  I   Komplksitas sedang Kompleksitas rendah Risiko Kecil atau  Dampak Kecil lampiran